Hasan Al Bana


Berdaganglah meski engkau sudah kaya

Iklan

Bagaimana Anak Visual Belajar


Sudah banyak yang menulis artikel tentang perilaku anak dengan tipe belajar visual. Saya hanya akan share dari diri saya sendiri, orang dengan tipe visual. Fakta yang saya dapati sebagai orang tipe belajar visual.
1. Lebih memperhatikan gambar daripada tulisan ketika membaca.
2. Ketika mengunjungi suatu tempat yg belum pernah dikunjungi, akan mudah hafal dari melihat tempat yang dilalui
3. Kebiasan mencorat coret buku
4. Suka hal-hal seni rupa
5. Risih jika ada pemandangan yang tidak rapi dan “tidak punya nilai seni”
Berasambung…

Sekolah 12 Tahun, Buang Sampah (Masih) Sembarangan?


Beberapa kebiasan jelek menurut saya oleh orang Indonesia, adalah budaya membuang sampah tidak pada tempatnya. Ditambah lagi, pengelolaan sampah yang belum maksimal. Jadilah kedua hal tersebut menjadi budaya buang sampah sembarangan.

Ada selintas ide di pikiran saya, bahwasanya untuk memutus rantai budaya membuang sampah dimulai dari usia sekolah, dalam hal ini yang saya bahas adalah usia sekolah (Sekolah Dasar). Bisa juga sejak di usia Taman Kanak-Kanak sudah diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar pendidikan formal, namun juga belajar tentang etika etika dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu contohnya adalah budaya membuang sampah pada tempatnya. Guru seharunya terus mengingatkan kepada murid setiap memasuki kelas yang ia ajar, kemudian mengingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menyuruh mereka untuk membersihkan sampah yang ada disekitar bangku mereka.

Beri tauladan ke siswa, jika guru melihat ada sampah, sekiranya dia pungut dan letakan ditempat sampah. Guru juga menjadi contoh untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika sekiranya dia tidak mendapati tempat sampah, dia bisa menahannya sampai mendapati tempat sampah.

Hoby NgeTrip, Sambil Menyayangi Alam


MY TRIPAkhir akhir ini ada acara jalan – jalan yang disiarkan televisi, acara yang berisi tentang perjalanan pembawa acarnya ke tempat wisata alam, sambil menikmati fasilitas yang ada di sekitar. Tapi karena ngetrend di telvisi, kemudian merambah ngetrend di media sosial, banyak anak – anak abg ikut trend tersebut (tapi kadang biaya perjalanan minta ke orangtua, bukan uang usaha sendiri).

Lanjutkan membaca “Hoby NgeTrip, Sambil Menyayangi Alam”

Apa yang dikelas, ia yang dimainkan


Ada sebuah pembicaran menarik di workshop yang saya ikuti beberapa hari yang lalu, yaitu tentang e-learning. Dalam materi tersebut juga disampaikan tentang literasi, membudayakan membaca dan menulis pada siswa dikelas. Pembicara menyampaikan, siswa akan memainkan apa yang ada dikelasnya. Jika siswa disediakan catur dikelas, maka ketika istirahat mereka akan bermain catur, atau jika disediakan bola, mereka akan bermain bola. Begitu juga ketika disediakan buku, maka siswa akan membaca. Budaya membaca juga perlu di dukung oleh guru dan pihak sekolah.

Kelas Ramain, Boleh Dong?


Mengelola kelas yang “ramai” itu menantang dan menyenangkan. Ketika dihadapkan dua kelas, satu kelas dengan tipe yang lebih tenang, satunya lagi kelas yang dominan ramai, saya memilih yang kelas ramai? Ada 2 kemungkinan kelas tersebut ramai, satu karena gurunya kurang asyik atau materinya nggak asyik. Itu pendapat saya.

Kelas yang ramai boleh saja, asal ramai dalam menanggapi apa yang disampaikan guru. Tugas guru adalah mengatur “ritme” keramaian tersebut. Guru sebagai leader berkuasa penuh atas kelas yang ramai tersebut, tidak di dikte oleh kelas. Pada titik bosan mereka, kita harus punya trik, misal memutar video atau melontarkan joke ke kelas.

Ciao…..