Anak yang Hiperaktif dalam Kelas, apakah potensinya?


Sebuah pertanyaan ketika saya mengetahui setiap anak punya bakatnya masing masing, tidak ada anak yang bodoh, hanya saya mereka belum menemukan guru yang tepat atau metode mengajar yang tepat.

Sebuah jawaban sudah saya temukan ketika menjadi seorang pengajar, ketika di kelas ada anak yang punya kemampuan berbicara sepanjang pelajaran berlangsung :mrgreen: Anak yang punya kecendurang berbicara, saya yakin dia berbakat untuk menjadi pembicara, motivator, atau penceramah. Tapi, jika menjumpai anak yang hiperaktif di kelas, apa ya kira – kira potensinya? sementara ini saya memprediksi potensinya adalah menjadi olahragaan atau orang lapangan. Tapi entahlah…..apa prediksiku benar, potensi mereka berkembang untuk hal positif.

Mengembangkan Minat Baca Si Anak Visual


Kita tahu, sebenarnya tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak hanya mempunyai kecerdasan yang berbeda. Ada yang mempunyai kecerdasan matematis, linguistik, visual spasial, kinestetis, musikal, intrapersonal, interpersonal, naturalis (tipe kecerdasan menurut gardener)
Jadi jangan marahi anak anda ketika dia tidak bisa matematika, karena bisa jadi potensi anak tersebut ada dibidang lain.
Setiap anak punya cara sendiri untuk mengenalkannya mencintai membaca. Perlu ‘seni’ untuk membuat mereka mencintai membaca. Membaca adalah modal mempunyai banyak pengetahuan bagi anak.
Disini saya akan membahas tentang bagaimana mengajarkan anak.
Anak dengan tipe visual cenderung menggunakan indera pengelihatan mereka untuk melakukan sesuatu hal. Terkadang anak dengan tipe visual menuangkan ide mereka dalam coretan atau sebuah gambar. Terkadang dia mencoret kertas, buku atau tembok. Untuk membuat mereka mencintai membaca, berikan buku yang memuat gambar yang menarik, atau membuat porsi gambar dengan porsi lebih. Sambil mereka melihat buku bergambar tersebut, tugas orang tua adalah menerangkan atau menceritakan deskripsi buku tersebut, hal ini bertujuan untuk menunjang isi buku dapat dimengerti oleh anak. Meskipun anak visual yang cenderung melihat daripada mendengarkan, isi buku yang diterangkan oleh orang tua akan membuat kedekatan dengan anak.

Begitu seterusnya, anak tipe visual mempunyai kemampuan untuk “memvisualisasikan” apa yang ada di dalam sebuah perkataan, bisa disebut juga mempunyai imajinasi yang tinggi kalau menurut saya.

Saya sendiri terlambat mengetahui saya anak tipe apa (atau gaya belajar apa), saya baru tahu kalau saya adalah anak dengan gaya belajar visual ketika lulus SMA, dan itu sangat terlambat. Sejak kecil saya suka corat coret tembok, ketika sd suka menggambar di buku tulis, sampai kuliah saya juga suka corat coret di buku tulis :mrgreen:

Bisa saja anak tipe visual dibelikan alat peraga dengan gambar, kamus bahasa inggris dengan gambar, dll

Ketika kuliah, saya paling suka mata kuliah desain grafis (saya dikuliah jurusan komputer), dan bisa mendapatkan nilai bagus di mata kuliah tersebut.

Ada sebuah teori, anak bisa mempunyai kecerdasan ganda. Nah, saya disini mempunyai kecerdasan bahasa juga. Sejak SD saya paling suka pelajaran Bahasa Indonesia dan Menggambar. Saya juga suka pelajaran bahasa Inggris meski tidak begitu mahir. Namun saya mengakui bahwa saya lemah dibidang matematis dan olahraga. Saya berusaha mengejar kelemahan tersebut dengan mengejar standar minimal yaitu “bisa” melakukan pelajaran matematika dan olahraga.