Filosofi Memanah


Oleh: Ustadz Salim A Fillah saya ambil dari akun instagram beliau

Jemparingan Mataraman adalah seni memanah tradisional Jawa khas Yogyakarta. Berakar dari keterampilan para prajurit Keraton yang menggunakannya sebagai bagian dari olah kanuragan kaprajuritan. “Pamenthanging Gandewa, mujudake Pemanthenging Cipta”, demikian filosofi Jemparingan Mataraman yang bermakna bahwa jemparingan itu tidak hanya sekedar olahraga namun juga seni mengolah rasa dimana seorang pemanah dalam membidik mereka juga menggunakan hatinya, sehingga dibutuhkan ketenangan pikir dan kedalaman penghayatan.

 

Demikian pula kata “manah”, yang dalam Bahasa Jawa berarti “hati nurani” atau “perenungan yang dalam” dipakai juga untuk menggambarkan aktivitas meluncurkan anak panah dari busurnya. Maka jemparingan adalah satu seni olah jiwa yang luhur, menggambarkan akar kebudayaan Jawa khusunya Keraton Yogyakarta yang penuh falsafah “mesu budi lan raga” sebagai persiapan untuk turut “hamemayu hayuning bawana”. Sungguh suatu hal yang istimewa juga bahwasanya Ayahanda Panembahan Senopati, leluhur pendiri Kerajaan Mataram yang nantinya pula melahirkan Kasultanan Yogyakarta bernama Ki Ageng Pemanahan.

 

Adapun nama kampung Jogokariyan berasal dari nama kesatuan prajurit Keraton Yogyakarta yakni Bregada Prajurit Jogokaryo.

3 pemikiran pada “Filosofi Memanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s