Filosofi Memanah


Oleh: Ustadz Salim A Fillah saya ambil dari akun instagram beliau

Jemparingan Mataraman adalah seni memanah tradisional Jawa khas Yogyakarta. Berakar dari keterampilan para prajurit Keraton yang menggunakannya sebagai bagian dari olah kanuragan kaprajuritan. “Pamenthanging Gandewa, mujudake Pemanthenging Cipta”, demikian filosofi Jemparingan Mataraman yang bermakna bahwa jemparingan itu tidak hanya sekedar olahraga namun juga seni mengolah rasa dimana seorang pemanah dalam membidik mereka juga menggunakan hatinya, sehingga dibutuhkan ketenangan pikir dan kedalaman penghayatan.

Β 

Demikian pula kata “manah”, yang dalam Bahasa Jawa berarti “hati nurani” atau “perenungan yang dalam” dipakai juga untuk menggambarkan aktivitas meluncurkan anak panah dari busurnya. Maka jemparingan adalah satu seni olah jiwa yang luhur, menggambarkan akar kebudayaan Jawa khusunya Keraton Yogyakarta yang penuh falsafah “mesu budi lan raga” sebagai persiapan untuk turut “hamemayu hayuning bawana”. Sungguh suatu hal yang istimewa juga bahwasanya Ayahanda Panembahan Senopati, leluhur pendiri Kerajaan Mataram yang nantinya pula melahirkan Kasultanan Yogyakarta bernama Ki Ageng Pemanahan.

Β 

Adapun nama kampung Jogokariyan berasal dari nama kesatuan prajurit Keraton Yogyakarta yakni Bregada Prajurit Jogokaryo.

Iklan

Serunya Latihan Memanah


Beberapa pekan ini, aku di asyikan dengan hobi baru, yaitu memanah. Dulu sih hanya sekedar tahu, tapi sekarang Alhamdulilah bisa mencoba memanah. Tidak heran sedikit yang menekuni hobi ini, karena memang peralatan memanah cukup mahal. Tapi dibalik itu ada hal yang mengasyikan. Memanah tak sekedar melepas anak panah dari busur ke sasaran. Namun, memanah juga melibatkan pernapasan, kekuatan tangan, konsentrasi dan psikologi si pemanah.

Saya sendiri mencoba dengan beberapa varian jarak sasaran. Tidak mudah memang untuk mengenai sasaran, apalagi bagi pemula seperti saya. Konon memanah berasal dari bahasa jawa manah (hati.red) biasanya kata manah dalam bahasa jawa disandingkan dengan kata lembah, atau lengkapnya lembah manah yang berarti rendah hati. Atau biasa juga disandingkan dengan dua kata lain seperti andhap asor, jadi biasanya digabung “lembah manah — andhap asor”

Mencoba menarik kesimpulan bahwa memanah mengajarkan untuk tetap rendah hati.