Fotografi: it’s time to lomography


*) Seni Fotografi dengan Standard Sendiri

Dalam dunia fotografi, kesempurnaan gambar tentu saja menjadi tujuan setiap fotografer.  Semua yang memiliki kamera tentu saja menginginkan hasil jepretannya sempurna, dalam arti gambarnya tajam, warnanya pas, tidak blur, exposure bagus, focal point jelas, dsb. Sayangnya tidak selalu seperti itu, walau memakai kamera jenis DSLR sekalipun.

Dengan kamera digital, biasanya setiap kali kita foto, kita langsung atau tidak lama kemudian  lihat di layar LCD, apa gerangan hasil jepretan kita. Kalau tidak memuaskan, biasanya segera pula kita hapus. Tindakan menghapus gambar yang tidak memuaskan ini menjadi ciri umum untuk semua fotografer, khususnya kelas Point and Shot. Tindakan ini tentu saja tidak salah karena memang hasil jepretan tidak memuaskan alias tidak seperti yang dikehendaki dan alasan kedua ialah karena kalau dibiarkan alias ngga dihapus nanti memorinya penuh.

Kalau memori kamera Anda masih jauh dari penuh, saya usul supaya janganlah Anda menghapus jepretan yang ngga memuaskan hati Anda itu. Mending Anda lihat di komputer dan di sana baru Anda putuskan apakah disimpan atau dihapus. Dan bila Anda seorang yang suka bermain dengan editing gambar, maka saya bukan hanya menganjurkan tetapi juga sedikit memerintahkan jangan menghapus gambar-gambar tersebut, karena pada tahap tertentu dalam proses editing, kadang-kadang kita memerlukan gambar-gambar aneh tersebut.

Kita pasti sering melihat reklame bergambar di mana di sana ada unsur blur, ada unsur out of focus, dsb yang semuanya itu hasil kerja komputer dari gambar-gambar sempurna. Lah, ngapain repot membuatnya kalau gambar ‘tak sempurna’ itu sudah ada dari sononya? Pada saat seperti ini, gambar-gambar terbuang tersebut justru menjadi bermakna dan bernilai seni dan berguna dalam proses editing, mix berbagai gambar, dsb.

Sering sekali dalam proses editing saya bermain-main untuk membuat vignette, mempertinggi saturasi, dsb, yang sebenarnya justru merusak kesempurnaan foto demi mencapai keinginan kita atau mencapai nilai seni yang kita inginkan.

Mengapa demikian?  Tidak lain karena foto sempurna dan foto seni itu tidak selalu sama bahkan lebih sering berbeda. Coba Anda perhatikan album perkawinan buatan fotografer professional. Di sana ada gambar yang hitam putih, ada foto yang sepia, yang blur, dsb. Tetapi kita semua setuju bahwa foto-foto itu bernilai seni tinggi, padahal foto-foto itu jelas-jelas sengaja ‘dirusakan’ di komputer” dari foto-foto sempurna untuk mendapatkan nilai seninya.

Dalam dunia fotografi, kita mengenal yang disebut lomografi. Artikel soal ini bisa dibaca di Mba Wiki: http://en.wikipedia.org/wiki/Lomography. (Soal sejarah, termasuk mengapa disebut ‘lomo’ dan pengertian lomografi dan sebagainya baca saja di Wiki atau sumber lainnya.)  Mba Wiki menyebutkan bahwa Lomography menekankan hal-hal kasual, snapshot, dsb. Ciri khas photo dalam kategori lomografi ialah  adanya warna yang over-saturated, exposure yang salah, gambar yang ngga jernih alias blur alias kabur, warna yang vignette alias kuno alias antik, dsb. Ciri khas lainnya, ialah ada objek yang harusnya tak ada tapi ada di sana, bagian pinggir foto ada semacam balok balok hitam, atau bahkan sepanjang  permukaan foto seperti tampilan film tua yang udah mulai rusak, berisi garis-garis hitam atau grey.

Nah kalau hasil jepretan Anda ternyata seperti itu, maka janganlah rendah rendah diri tetai cukuplah dengan rendah hati dengan menyebutkan sebagai lomografi alias memang sengaja membuat foto berkualitas demikian adanya. Ini artinya Anda adalah seorang lomografer.

Kelebihan jepretan lomo ialah unik. Unusual. Dan di sinilah letak nilai seninya. Apa sih indahnya lukisan Affandi? Lah wong hanya kumpulan garis-garis kasar warna-warni, tidak jelas gambar apa, harus tatap lama untuk menangkap gambar apa gerangan. Lukisan-lukisan yang indah itu kan sebenarnya ialah seperti karya-karya Raden Saleh, begitsu. Tetapi siapa yang bisa membantah bahwa lukisan-lukisan Affandi bernilai seni yang tinggi? Lah hanya garis-garis, kurva sana sini, karena dibuat Affandi lalu disebut seni? Tentu saja tidak. Tetapi itulah seni, patternnya tidak harus selalu fotokopi dan cloning alam.

Demikian pula dalam dunia fotografi. Foto-foto bernilai seni itu tidak harus sebagai kesempurnaan dalam mengkopi atau cloning alam, manusia, binatang, dsb.

Untuk menciptakan lomo, ngga harus memakai kamera seperti Diana, Holga, Color Splash, Oktomat, Super Sampler atau Pop 9, karena toh dengan kamera digital PS yang sudah canggih saat ini saja, hasil jepretan kita masih sering sebagai jepretan lomo. Dan bagi para lomografer, justru ketidaksempurnaan inilah yang dicari dan bernilai seni.

Jepretan lomo juga bukan jepretan yang dirancang tetapi spontan, cepat. Presisi warna, focus, angle atau sudut ambil, komposisi dan berbagai aturan lainnya merupakan hal-hal tabu untuk para lomografer. Mereka berprinsip bahwa setiap gambar yang dihasilkan layak diapresisasi dan dinikmati oleh seluruh dunia.

10 aturan untuk para lomografer (menurut lomography.com):

1. Selalu membawa kamera lomo atau kamera saku ke mana saja Anda pergi.

2. Selalu menggunakannya, siang atau malam

3. Lomografi tidak mencampuri urusan Anda tetapi bagian dari hidup Anda

4. Jepret dari pinggul atau perut, bukan dari kepala atau mata.

5. Posisi dari objek sedekat mungkin

6. Jangan mikir soal objek, pencahayaan, focus etc saat jepret, jepret saja.

7. Bertindak cepat.

8. Jangan cek hasil jepretan Anda

9. Pun juga ngga perlu tahu hasilnya seperti apa, kalau mau

10. Jangan peduli dengan berbagai teori, aturan, teknik fotografi. Anda orang bebas.

Bagi para lomografer, jepret model lomo itu tidak sekedar jepret foto, tetapi juga gaya hidup. Bagi para lomografer, jepret objek model lomo itu membuka diri orang itu untuk melihat objek dengan cara yang berbeda, menemukan kecantikan dan keindahan justru di dalam kesederhanaan, keduniaan, pada hal-hal yang terbuang. Menemukan dan mendapatkan kenikmatan akan keindahan dan seni dengan cara ini, inilah hidup para lomografer.

Prinsip yang dipakai para lomografer ialah: semakin unik hasil jepretan seorang lomografer, artinya semakin bernilai jepretan nya. Mengapa keindahan sebuah baju harus bergantung dari penilaian para perancang busana dan pemilik butik? Demikian juga, atas dasar apa bahwa nilai seni atau keindahan suatu jepretan bergantung dari penilaian para fotografer semi pro dan professional? Mengapa harus bergantung pada standard yang mereka buat? Seorang yang bebas tentu tidak mau standard keindahan ditentukan oleh para professional itu, apalagi kalau sampai menjadi korban dari standard yang mereka ciptakan.

So, kalau Anda sering kecewa pada hasil jepretan Anda, maka berhentilah kecewa, karena Anda bias masuk atau menjadi anggota Lomografer di mana justru kecacatan, kekeliruan, kesalahan, keanehan-lah yang bakal dinilai sebagai karya seni, karena Anda seorang lomografer.

Salam Lomo and God bless!

diambil : http://community.kompas.com/read/artikel/2434

Satu pemikiran pada “Fotografi: it’s time to lomography

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s